Wednesday, March 28, 2012

the Salty lake, Napabale

Libur tlah tiba! Libur tlah tiba! Horeee.. horeee.. horeee.. 

Sambil menggumamkan lagu Tasya-Libur tlah tiba, menghentakkan kaki ke bumi, menyibak pagi dari tirai embun dan menikmati liburan. Dan tujuan liburan kali ini adalah suatu pulau di Sulawesi Tenggara, Muna island.

Berada di jazirah Tenggara pulau Sulawesi berarti berada di antara 651 gugusan pulau (2004). Negeri kepulauan ini terlalu berharga untuk tidak dinikmati setiap jengkal hamparan tubuhnya. Kali ini pulau Muna atau 'Wuna' dalam bahasa Muna yang artinya bunga. Sebuah nama adalah ekspektasi dari perwujudannya, pulau yang terdiri dari gugusan batu menyerupai bunga, gugusan karts.

Meninggalkan pusat kota Raha di pulau Muna, menyusuri 15 km ke arah desa Lohia, di sanalah saat mata memandang takjub. Hamparan air yang tertampung di sebuah cekung, biru. Prajurit-pajurit gagah penjaga danau mengitari sekeliling, hijau. Pecahan karang yang berhambur membentuk gugusan pulau, coklat. Warna-warni kuas yang tergambar pada coretan sampan sang nelayan, merah-kuning. Danau Napabale!
the hidden beauty of Napabale lake
the Salty Lake | Napabale 
ya, Danau Napabale, danau air asin yang terletak di kaki bukit desa Lohia, Kabupaten Muna. Danau ini bertetangga dengan selat Buton, dihubungkan oleh sebuah terowongan sepanjang 30 meter dan lebar 9 meter, keduanya pun saling bertemu. Selat Buton lah yang menyuplai air di danau ini.

Memiliki kisah sejarah cinta sang mantan raja pertama kerajaan Muna, Raja Muna I Bheteno Netombula dan permainsuri Wa Tandri Abe. Alkisah, sang permainsuri adalah gadis tidak dikenal tersesat di dalam terowonganyang ditemukan oleh warga. Raja yang melihat gadis itu terpesona oleh parasnya, maka dinikahilah dan menjadi permainsuri sang raja.

Pemandangan indah yang ditawarkan danau ini dapat dinikmati dengan berbagai cara, snorkeling, berenang, atau sekedar mengelilingi danau menggunakan sampan. Saya memilih untuk mengelilingi danau, dengan Rp. 25.000,- sebuah sampan nelayan dan saya puas ditakjubkan oleh hamparan keindahan dengan lenggokan bak foto model ala kadarnya.
Model Ala Kadarnya
 

Air yang tenang dan jernih dimanfaatkan oleh ikan-ikan untuk bernaung, terlihat scholling ikan-ikan kecil bergerombol berenang mengitari sampan yang saya naiki.  Mengelilingi danau Napabale seperti sedang berada di danau tertinggi, bukit-bukit yang mengelilinginya seperti tembok penahan si danau. Dan terowongan penghubung itu seperti mulut yang menganga mengalirkan asupan bagi si danau. Sayangnya air sedang pasang, sehingga terowongan tidak terlihat. Dan nelayan-nelayanpun hanya bergumul di sekitar danau memancing ikan seadanya.


Welcome to paradise.. Welcome to the hidden beauty..  

Friday, March 09, 2012

Telaga Banyu di Perut Bumi : Goa La Kasa

Menandangi Baubau, berarti menguak sejarah peradaban Indonesia. Kota yang terletak di  punggung sang Naga pulau Buton ini memiliki sejarah panjang peradaban Indonesia, salah satu penggagahnya adalah benteng Wolio yang disebut-sebut juga sebagai pusat pemerintahan VOC Indonesia-Timur pada masa itu.
Kota Semerbak yang menabalkan status kota pada tanggal 31 Juni 2001 dengan luas 221 Ha berkacak di perairan selat Buton, lokasi strategis sebagai pusat pertahanan Kesultanan Buton saat itu. Tak heran peninggalan-peninggalan budaya dan sejarah banyak tersimpan di bumi Baubau.

Terpaan pendar mentari bulan Januari disertai desiran bayu di musim penghujan menghangatkan kota Baubau, mengiringi setiap senti menapaki sejarah kota ini. Tiga puluh menit mengendari motor pinjaman, akhirnya sampai di sebuah tikungan dengan informasi "Goa Lakasa".
Here, I'm! Goa Lakasa 
Mengapa La Kasa? yah, La Kasa sebenarnya adalah nama orang, Bapak Kasa si penemu goa ini dan La adalah nama imbuhan untuk lelaki pada masyarakat Baubau.  Maka, jadilah orang menyebutnya dengan goa La Kasa.  Pak Kasa setiap harinya selalu berada di mulut goa ini, terkadang membantu pengunjung untuk menyusuri goa. namun sayang, pak La Kasa tidak di lokasi saat saya ke sini.

Goa La Kasa atau masayarakat Baubau lebih mengenalnya dengan pemandian La Kasa yang terletak di kelurahan Sulaa, kecamatan Betoambari, Baubau. Memasuki goa ini, berarti memasuki perut bumi. Cahaya pendar remang senter yang terbatas, menuntun saya memasuki mulut goa yang mungil ini, nampaknya Ia tak mau mengagakan sedikit bibirnya, sehingga memaksaku memasuki dengan memiring-membungkukan badan dan terus berjalan teliti.
memasukinya...
Goa yang gelap, tanpa penerangan, dan saya datang dengan tanpa membawa perlengkapan meng-Goa. dengan sandal jepit licin, tanpa senter, tanpa lilin, tanpa helm. Akhirnya dengan senter pinjaman pengunjung sebelumnya, nekad-lah saya memasuki si perut bumi ini. 

Memasukinya disambut stalagtit menjuntai seperti lilin terbalik yang menitikan tetes air di sumbunya. Tapi sayang, lalu lalang pengunjung menggagalkan tetesan di bawahnya untuk tumbuh menggapai asalnya. Terus menjelajahi si perut goa dan terus terpana. Stalagtit dan stalagmit goa ini bervariasi mulai dari seperti tetesan lilin, cengkraman, kristal-kristal equilibrium, dan semuanya memukau. Saya tiidak merasakan panas di dalam goa ini, justru sensasi dingin dan sejuk yang menjumpai, mungkin karena air di dalam goa ini. 
Stalagtit gapura penyambut di perut bumi
the awesome :D
seperti ingin mencengkram
Equibrilium
meleleh seperti rasaku ^^
Untuk mengakhiri menuju pangkal goa La Kasa tidak memerlukan waktu yang lama, hanya 15 menit. Goa dengan kedalamam 100 meter ini memiliki genangan air yang jernih seperti telaga, dan inilah mengapa disebut pemandian La Kasa oleh masyarakat. Air di goa ini merupakan air tawar dan dingin. Masayarakat menuturkan, air goa ini tidak pernah kering, walaupun di musim kemarau sekalipun, dan air tersebut dapat mencukupi keperluan air untuk warga sekitar. Berkah alam.

Telaga Banyu di perut bumi Goa La Kasa
Pemerintah telah menyadari potensi goa La Kasa ini, maka pada tahun 2010 telah dilakukan pemugaran pintu masuk goa, sehingga pengunjung dapat memasuki dengan mudah. Lampu-lampu taman dengan aliran listrik juga terpasang di sepanjang jalur penyusuran goa, hal ini memang memudahkan saat memasuki goa. hanya saja, jadi kurang alami dan berpotensi menghantarkan listrik yang dapat membahayakan pengunjung.

Menyusuri goa La Kasa, pengalaman yang menakjubkan. Di perut bumi sekalipun, keindahan masih ditemukan. Dan manusia selalu berusaha menguaknya. Walau dengan cara sederhana.
kami, manusia yang terus menguak alam  dengan sederhana ^^

Wednesday, March 07, 2012

mamahku kader loh sekarang.. ^^

Mamahku.. ahh, sekian lama di sini gw ga pernah yah cerita tentang wanita yang satu itu..
Mustamiroh namanya, kalo untuk ukuran nama jaman sekarang terdengar seperti pembantu yah. Emang iyah sih, atau malah terdengar seperti nama-nama pembantu di film atau sinetron 'bi Iroh'.
Dan dengan usilnya gw dan ade-ade gw suka memanggilnya dengan sebutan itu. hehehe.. pisss mamahhh #cium
Tenang, tenang.. mamahku pasti ga akan marah ko, dia cuma bilang gini: "itu nama bagus tau! liat tuuh di alquran.. ada artinya.. terus menerus.. biar rejekinya terus menerus turun". Kalo udah ngomong gtu gw cuma bilang "aminnnnnnnnn".

Oiya, mamah tuh katanya bisa menerawang pikiran, kejadian masa depan. dari mimpinya, dari pandangannya, dari firasatnya. Dan karena kelakarnya kalo mulai ceramah di depan gw sama ade-ade gw, makanya gw menyebutnya si 'Iroh Edan' (terispirasi dari Lia Eden). hehehehe :* #cium lagi ahh. 

Mamah waktu muda? ish, jangan ditanya! Gaooll, Okem, Preman, Terkenal.. ahh pokonya tenar deh..
Mulai dari gaya dari ujung rambut sampai ujung kaki pake trend masanya. Rambut, jangan di tanya! trend rambut ngembang kribo panjang pas tahun 80-an lagi in in nya. Muka, sangar dengan dandanan khas mbak Trie Utami. Gaya baju, beuhhh trendy deh! mulai dari gaya kembung-kembung, rok, baju warna-warni, bunga-bunga, blezer-blezer. Aksesoris, lengkap! anting-antingan imitasi yang warna-warni sesuai warna baju, gelang dukun yang gede warna-warni. Ahh, pokonya nyokap gw biar jelek tapi banyak yang suka katanya : p .

Yahhh, tapi itulah mamah muda dulu. Energik, bak seorang satria siap sedia. Dan sekarang sedikit nurun ke gw kayanya. Hehehe..
Dan sekarang mamah sudah tua, umurnya tahun ini memasuki 49 tahun, tapi dia selalu keliatan muda buat gw.. selalu terlihat cekatan, terlihat optimis, walaupun mungkin pusing bener ngurusin rumah, keluarga dan sebagainya. (ahhh jadi kangen, pengen nangis). Tapi emang bener, menurut gw nyokap terlihat lebih muda dari temen-temennya yang lain, yang seumur dengannya. #allways love you mom :*

Mamah itu seorang ibu rumah tangga yang teladan. Ngurus rumah, Ok!. Ngurus anak, Bisa!. Ngurus suami, ga masalah!. Ngurus ekonomi, Bisa sambil merem melek (sing sabar mom). Pokonya yang gw tau, gw liat dan gw sadari, nyokap gw selalu bisa menghandle semua masalah di rumah. Mulai dari anak-anak yang bengal, bandel, susah diatur, makan ati, dan sebagainya. Ditambah sakit-sakitannya bokap gara-gara asep rokonya yang berlebih di masa muda dulu (baca: Bengek aka Astma). Mikirin gaji bokap yang ga gede-gede amat buat semua keperluan rumah tangga, kata nyokap "kalo pas gajian tuh bikin gw pusing aja, cuma numpang buat diatur-atur". Dan segala tetek bengek lainnya yang kadang kalo gw liat nyokap, kasian yah nenek tua itu.. : p . Hebat sekali kan nyokap gw?.

Anaknya mamah sekarang udah gede-gede, malah kasian.. kesepian di rumah. Anak perempuannya Feby yang paling gede, paling cantik, paling manis, kerja jauh banget. Anak keduanya, Hasyibulloh aka Iwan sibuk kuliah, sibuk organisasi, jarang di rumah, cuma numpang tidur-makan doang. Anak bontotnya, Putra jarang banget di rumah, demen kluyuran, doyanan maen daripada kuliah, sambil kerja juga jadi pol PP di pasar. Suami satu-satunya rutin tiap pagi berangkat ke kantor, pulang sore. Jadi, "mamah kalo siang kesepian, ga ada temen, jadi lemes, bete", itu katanya kalo lagi cerita di telpon.

Mamah tuh doyan ceramah, hobi nasehatin, kalo setiap nelpon gw tuh pasti banyak banget petuah-petuah dari sang mamah. Biasanya petuahnya seputar "jaga kesehatan yah Feb, sholat-ngaji jangan ditinggal, hemat rajin nabung jangan jajan barang ga penting, cari suami, cepet nikah mamah udah tua nih pengen punya cucu dan cerita-cerita seru lainnya", dan jawaban gw cuma "iyah, iyah, iyah, iyah, iyah mamahku sayangggg" :*

Keluhan nyokap gw makin jadi sekarang-sekarang, kesepian Feb bosen di rumah mulu. Yaudah, dengan sok bijak sekarang gantian gw yang nasehatin, hihihi "maen dong mah, mampir-mampir ke Jakarta, liatin cing-cang di sana, ikut kegiatan di RT kek". Dan terakhir, semalem tadi nyokap telpon. Gini nih percakapannya.

Mamah : "Feb, gw sekarang udah jadi kader dong" kayanya sambil lagak bangga gitu.
Gw : "Kader apaan mah? partai? gaya bener udah kaya Iwan aja"
Mamah : "bukan, kader lansia pondok aren"
Gw : "huahahahaha, mamah udah tuaaaaaaa.. udah jadi nenek-nenek jadi anggota lansia pndok aren"

Dan mamah gak  akan pernah marah kalo gw ledekin tua, jawabannya pasti "emang udah tua, udah jadi nenek-nenek, makanya lu cepet kawin, biar nenek tua punya cucu", Ahhhh.. mamah ke situ lagi.

Mamah : "Nanti gw mau lomba Feb, lomba kaya cerdas cermat gitu"
Gw : "ishh, mamah gaya ihh"
Mamah : "Tapi gw bego banget dah, belet! ga masuk-masuk otak gw belajar juga"
Gw : "Hehehe, kan udah pudul mah otaknya.. :p. Ayoo belajar yg bener, biar menang mah"
Mamah : "iyah, nih gw lagi rajin diajarin sama ibu Camat, ibu Lurah, pokonya belajar deh"

Dan mamahku yang sudah tua itu, tetep semangat menjalani hari menjelang makin tuanya, seenergik dulu, segiat dulu, dan itu mamahku, mamahku tersayang, panutan gw!. I'll do best for you mamah-papahku :*

Mamah cantik dan anak cantiknya ^^

ciummm mamahkuuuu :*

Wednesday, February 29, 2012

di ujung Pebruari


Mengejutkan!
Pagi itu bagi saya adalah pagi yang mengejutkan. Pebruari, sebenarnya ini bulan yang saya sukai, bukan karena ada tanggal hari saya terselip di bulan ini, tapi karena Pebruari ini si bulan singkat (gajiannya lebih cepat \(^,^)/). Ahh, 27 Pebruari ini adalah hari yang saya khawatirkan selama hampir setahun saya di instansi ini, “Pelantikan Pejabat Eselon III Kementerian Kehutanan”. Judul headline itu terus bermunculan di kepala, berharap nama seseorang di sana tidak akan tercantum sampai lima tahun saya di sini.
Sepertinya doa saya tidak cukup kuat untuk menahan beliau, hari itu rasanya risau, gelisah (lebay yah). hehehe.
Pagi itu, dengan semangat saya membuka website yang mencantumkan tragedi memilukan buat saya, di print bukan maksud hati karena senang, tapi meyakinkan kalau nama beliau benar tercantum. Dannn, benar namanya ada! :(

Benar saja, dugaan, firasat dan semua rasa-rasa aneh saya menjelma nyata.. Begini beritanya:
"Pada Pelantikan Pejabat Eselon III Kementerian Kehutanan pada tanggal 27 Pebruari 2012 itu, Kepala Balai saya.. yah! Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, bapak Wahju Rudianto, S.Pi., yang emang udah cukup lama (5 taun) di Baubau ini, namanya tercantum di jelas menempati jabatan barunya."

Egois kalo saya tidak merasa senang, tapi munafik juga kalo saya tidak merasa sedih. Saya senang atas jabatan barunya, mungkin dengan jabatan baru itu beliau lebih maju berkarir lebih baik, tapi.... saya harus sedih dengan lokasinya yang di Ibu Kota Jakarta itu.


Seperti kata beliau dalam status media sosialnya: "Bang Toyib kembali, setelah 5 kali puasa, 5 kali lebaran". Dan ungkapan itu cukup menjelaskan, betapa ingin pulangnya beliau. :)

Yahhh, begitulah mungkin hidup. Saat pertemuan, harus siap akan perpisahan. Saat bahagia, jangan lupa kalau sedih juga ada. Saat datang, suatu saat nanti akan ada kepergian. Semua berputar, semua mengarus mengikuti alur.

Saya, Kami di sini, di Taman Nasional Wakatobi, di Rujab Bapak dulu, di kantor ini hanya dapat berjabat tangan. Jabat tangan selamat, selamat atas sukses, selamat atas kepulangan. Jabat tangan terimakasih, terimakasih atas dedikasi, terimakasih atas bimbing, terimakasih atas semua rasa tercurah. Jabat tangan doa, doa bagi Bapak, doa bagi kami, bagi saya.

Wednesday, February 08, 2012

|pariwisata wakatobi|tulisan ngawur|hanya ungkapan saya|


Berkembangnya pariwisata alam yang berkelanjutan akan membantu upaya konservasi pelestarian di kawasan tersebut, melalui pengenalan sumberdaya penting dan penyadartahuan baik kepada pengunjung maupun masyarakat setempat.  Selain itu, dengan adanya pengembangan pariwisata alam juga akan mendorong pencapaian target kinerja Balai Taman Nasional Wakatobi bidang PHKA, yaitu peningkatan pendapatan masayarakat sebesar 18% per kepala keluarga melalui pemberdayaan masyarakat, karena dengan berkembangnya pariwisata alam yang semakin pesat akan membawa implikasi semakin banyaknya jumlah wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata alam. Hal tersebut akan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat melalui usaha-usaha produktif yang mendukung kegiatan pariwisata di dalam kawasan.
Oleh karena itu, mari geliatkan pariwisata Indonesia. Indonesia tumbuh, maka kawasan di dalamnya juga akan tumbuh! Semangat Febong, kamu bisa.. kamu bisa! Mau dapat yang indah itu tidak melulu indah, sakit, susah, pedih akan dibayar dengan keindahan. Sulit, memang sulit. tapi bukan berarti ga bisa kan?
Go.. Go.. Go Feby! \(^.^)/

Tuesday, January 31, 2012

Present: Ditha, Wawa, Feby dan Rike||we're NEW


Berdasarkan SK Menhut nomor SK.700, 710, 711 dan 1135/Menhut-II/Peg-2/1-2011 yang mengharuskan 4 (empat) orang gadis belia menjalani hari-hari selama 5 (lima) tahun ke depan di Balai Taman Nasional Wakatobi. Berikut masing-masing gadis belia tersebut:
Dita, Wawa, Feby, Rike
1. Nindita Ayu Kartikasari, A.Md.
Nindita Ayu Kartikasari atau biasa di panggil Ditha, Nindut, Ninditut.
Lahir di Solo pada tanggal 21 April 1987, dari lahir sampai SMA di Solo baru saat kuliah hijrah ke Yogyakarta.
Ka Ditha saya biasa memanggilnya, adalah almamater dari jurusan Ekonomi Akuntan Universitas Gajah Mada  pada tahun 2008.
Berdasarkan SK. 710/Menhut-II/Peg-2/1-2011, Jabatan pekerjaan di Balai Taman Nasional Wakatobi sebagai Verifikator Keuangan.
Sifat, kalau dari sifat, ka Dhita adalah orang yang dewasa, ngemong (mungkin karena usianya paling tua), solutif, dan medokkk bener Jawanya (hihi ^.*v)
Nindita Ayu Kartikasari
2. Marwah
Marwah singkat bukan namanya? Marwah biasa dipanggil Wawa atau marwah.
Lahir di Kendari tepatnya di Rate-rate pada tanggal 19 Januari 1988.
Wayway adalah mantan mahasiswa jurusan Ekonomi dan  Akuntansi di Politeknik negeri Ujung Pandang dan berdasarkan SK. 711/Menhut-II/Peg-2/1-2011, jabatan pekerjaan di Balai Taman Nasional Wakatobi sebagai Verifikator Keuangan (sama ka Dhita)
Kalau Wawa orangny pendiam dan cenderung nurut, paling kalem dan awal-awal suka malu-malu (tp sekarang sih enggak :p).
Wayway temenku nonton spongebob.. musuhnya Rike dan ka Dhita.. wkwkwk ^^
Marwah
3. Rike Oktaviani
Rike Oktaviani biasa dipanggil Rike, Riceuh (rieweh kali yah) tapi gw manggil dia neng.
Lahir di Bogor pada tanggal 20 Oktober 1989. Dari lahir sampai kuliah selalu di Bogor (sama ama saya)
Rike personel paling muda di tukikers wakatobiers (hahay, namanya group ngarang) jadi maklum kalo sifatnya sedikit manja, petakilan, pecicilan, cerewet (halah rempong deh) :p
Rike mantan mahasiswa jurusan Ekowisata Program Diploma IPB tahun 2010.
Berdasarkan SK. 700/Menhut-II/Peg-2/1-2011, jabatan pekerjaan di Balai Taman Nasional Wakatobi Perencanan Program dan Evaluasi. 
Rike Oktaviani
4. Febyanti Muthia Anggraeni
Febyanti Muthia Anggraeni atau biasa dipanggil Feby, Feby Jolie, Feby manis (hwahaha #ngarep)
Lahir di Bogor pada tanggal 17 February 1988, dari lahir sampe lulus kuliah di Bogor (merantaunya kejauhan).
Feby lulusan Program Diploma IPB Jurusan Ekowisata yang lulus pada tahun 2009 dan berdasarkan SK. 1135/Menhut-II/Peg-2/1-2011, jabatan pekerjaan di Balai Taman Nasional Wakatobi sebagai Perencanan Program dan Evaluasi.
Feby itu orangnya kalem (pitnah), ga banyak omong (pitnah), petakilan, ya gitulah.
Febyanti Muthia Anggraeni
Lihat, kami manis-manis kan? Nih, aktivitas kami selama di Baubau 9 bulan terkahir ini:
Pamer seragam baru, pamer badge :p
Nirwana beach, ayoo berenang ^^
Hanggar, potrait kami dong..
say: peteeee :)
ini di pete-pete, tapi masih sempet poto-poto

mari makan.. 
heiii. that we are
Kondangan, ke undangan.. 
ini kamiiii.. ^.* salam kenal..
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bersama, senasib, serumah, sepenanggunang, sekantor..
Bersama, menjalani lima tahun yang ajaib..
Bersama.. pasti indah.. ^.^



BUNGI just B-U-N-G-I and its a wonderful waterfall

Selamat pagi, semangat pagi!
Karena jalan-jalannya saat libur Imlek kemaren, jadi Happy Lunar New Year yaahhhh.. (hehehe, telatt bener) 
Postingan kali ini tentang indahnya air jatuh Bungi yang tersembunyi.  yah, tersembunyi di antara semak-semak dedaunan dan jalan setapak.

Air jatuh Bungi terletak jauh di belakang air terjun Tirta Rimba. Di mana lagi tuh air jatuh Tirta Rimba? ayooo jalan-jalan di blog saya, nanti ketemu deh.
Air jatuh ini letaknya memang agak tersembunyi hanya sedikit orang yang mengetahui keberadaannya, karena akses jalan menuju air jatuh Bungi juga agak sulit dan tidak terlihat.

Sebenarnya orang lebih mengenalnya dengan pemandian Bungi, karena sungainya memiliki kolam-kolam batu bertingkat dengan tampungan debit air dengan kedalaman setiap kolam antara 1-4 meter.  Air jatuh Bungi terletak di kecamatan Bungi kota Baubau, sekitar 10 km dari pusat kota Baubau. Menuju air jatuh Bungi dapat ditempuh dengan kendaraan darat selama 10 menit dari pusat kota, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 1,5 km.  Di lokasi ini jangan mencari papan interpretasi tentang air terjun, papan petunjuk jalan saja tidak ditemukan. Pengelolaannya masih sederhana, baru sebatas sampai air terjun Tirta Rimba saja. 

Obyek wisata ini berada di lokasi hutan yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam Sulawesi Tenggara, tapi yang terlihat selama ini tidak ada pengelolaan dari BKSDA Sultra.  Semua fasilitas dan pengelolaanya di kuasakan oleh pemerintah kota Baubau dan masyarakat. Yah, inilah salah satu pengelolaan kawasan di Kementerian Kehutanan, benturan kepentingan antara ekonomi dan konservasi. 

Okeh, common ceck this picture:
Jalan menuju Air jatuh Bungi
nih, kolam-kolam pemandiannya
Present : Air Jatuh BUNGI
Saya suka di sini, pengunjungnya masih sedikit karena aksesnya memang belum tersedia. Tapi begitukan seharusnya berada di alam? sepi, nikmati, senang. ^.^ Karena masih sepi, jadi bebas mau melakukan apa saja. tapi, tetep jaga alam yah.. ^^

Mau mandi di kolam? Bisa!
Bertapa ataupun melamun? Bisa juga ko!
mau foto ala-ala prewedd? Bisa! (hwahaha *ilustrasi*)
atau sekedar photo landscape? Bisa!
mau di foto kaya gini, juga Bisa! *jangan liat perutnya*
Setelah lelah menikmati air tawar di pulau ini, lanjut makan jagung bakar. Sekitar 2 km dari air jatuh Bungi, terdapat banyak warung-warung bilik yang menyediakan jagung bakar/rebus dan minuman ringan. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp. 2.000/buah.  Tapi memakan jagung di sini jangan dibanyangkan seperti Puncak, rasa jagungnya tidak manis alias hambar dan sedikit keras. Sekali lagi dan tidak ada pilihan rasa selain plain (hambar), tapi jangan khawatir sudah disiapkan sambal dan garam jika mau rasa lain. ^.^
Jagung.. jagungg..
---------------------------------------------------------------------------------
Di sini, baru secuil rasa terkuak..
mendendangkan irama-irama cita..
menenggelamkan gundahku..
Di sini, aku menikmati alamku.. ^.^